Penjelasan Playing Victim dalam Politik, Sudah Ada Sejak Dahulu

 

Ilustrasi, sumber foto: tawangsarikampoengsedjarah.wordpress.com


Hasil ketok palu pada Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di The Hill Hotel, Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara pada Jumat, 5 Maret 2021, yang dengan suara bulat memilih Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat masa jabatan 2021-2025 terus menimbulkan kontroversi.


Moeldoko dan kawan-kawan dianggap membajak pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang sah menjadi Ketua Umum Partai Demokrat sesuai aturan partai berlambang bintang mercy itu.


Legitimasi kepemimpinan AHY diperkuat dengan keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) yang menolak hasil KLB Demokrat untuk kubu Moeldoko.


Sementara itu, di tengah kisruh Partai Demokrat, sejumlah partai berspekulasi ada corak politik yang digaungkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai 'ruh' partai ini.


SBY dinilai menggunakan gaya lama, playing victim, untuk mendapatkan simpati masyarakat, sehingga bendera Partai Demokrat kembali berkibar jelang Pemilu 2024.


Sebenarnya, seperti apa istilah playing victim dari sudut pandang politik?


Arti istilah playing victim


Secara etimologis, playing victim berasal dari bahasa Inggris, playing artinya bermain dan victim yang berarti korban. Bermain korban. Artinya seseorang berperilaku sebagai korban, dengan mengutarakan berbagai alasan sebagai pembenaran di depan orang lain.


Istilah ini sering digunakan dalam berbagai situasi, seperti ketika seseorang bertengkar. Saat diminta menjelaskan situasinya, orang yang berperan sebagai korban akan bertingkah seperti orang yang diserang dan hanya akan melawan balik untuk melindungi dirinya, padahal kenyataannya tidak.


Praktek playing victim sudah ada sejak lama sebagai strategi perang


Merujuk pada buku Seni Perang dan 36 Strategi karya Sun Tzu - penggagas seni perang dari Tiongkok, ia menjelaskan konsep playing victim dalam strategi perang: dalam strategi ke-34 dari sub-bab Strategi Kalah, "Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh (masuk ke dalam jebakan, jadilah umpan) ".


Sun Tzu menjelaskan, berpura-pura terluka memiliki dua kemungkinan. Pertama, musuh akan tenang sejenak karena dia tidak melihat kita sebagai ancaman yang serius. Kedua, jilat musuh dengan berpura-pura terluka, agar musuh merasa aman.


Sederhananya, kita bisa menyebut strategi ini sebagai strategi mengelabui dan memanipulasi keagresifan musuh. Praktik playing victim telah dipraktikkan oleh Sun Tzu sejak ratusan tahun silam, atau sekitar 544-496 SM.


Sun Tzu sendiri adalah seorang jenderal, ahli strategi militer, penulis, dan filsuf Tiongkok yang hidup selama periode Zhou Timur Tiongkok kuno. Sun Tzu secara tradisional dikreditkan sebagai penulis Seni Perang, sebuah karya strategi militer yang memengaruhi filosofi dan pemikiran militer Barat dan Asia Timur.


Playing victim adalah strategi ampuh untuk mencuri simpati publik


Tidak dapat dipungkiri bahwa menyerang dan bertahan dalam dunia politik merupakan praktek yang lumrah, terdapat berbagai strategi untuk merebut kekuasaan, termasuk strategi playing victim.


Strategi ini bertujuan untuk mengelabui musuh agar merasa aman dan tidak terancam, serta memanfaatkan simpati publik dengan pernyataan dan kerangka peristiwa. Sehingga pelaku playing victim yang berperan seolah-olah menjadi korban penganiayaan dalam kasus tersebut, yang kemudian menggugah simpati dan dukungan masyarakat.


Meski tidak selalu berakhir dengan baik, strategi ini dinilai cukup ampuh untuk menggiring opini publik. Permainan kata dan taktik unik terbukti rumit dan digunakan dalam berbagai situasi.


Alhasil, dampak yang paling terlihat dari strategi ini adalah pandangan netral masyarakat terguncang akibat pengaruh psikologis yang menggugah simpati. Sehingga publik mulai menutup mata dan membangun pemahaman itu dengan menutup mata, mendukungnya tanpa mempertimbangkan fakta lain.


Kasus-kasus yang disebutkan menggunakan playing victim


Beberapa kasus yang juga dinilai menggunakan strategi playing victim adalah orang-orang Yahudi yang dinilai memanfaatkan simpati publik dan perhatian dunia, dengan mengaku sebagai orang terjajah dan terlantar, akibat penyiksaan oleh Nazi di Jerman.


Dampak positifnya, mereka mendapatkan banyak dukungan dari negara-negara besar, untuk kemudian merambah wilayah Palestina dan mendirikan negara Israel hingga saat ini.


Contoh lain playing victim dalam politik adalah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam Pilkada DKI 2017, dengan mengangkat isu minoritas untuk menarik simpati publik.


Sayangnya, pernyataan Ahok justru membuat blunder dan tidak tepat sasaran, yang justru menjebloskannya ke dalam penjara. Ahok dianggap menistakan agama.


Sikap lama SBY kembali dikeluarkan


Beberapa waktu lalu, guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan, Salim Haji Said, mengaku tak habis pikir, untuk apa Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko bersaing menjadi ketua umum Partai Demokrat.


Pasalnya, kata dia, Demokrat dinilai tidak lagi memiliki suara yang kuat di parlemen dan dunia politik. Dalam pemilihan legislatif saja, Demokrat hanya meraih 7 persen dari total suara.


“Bahkan, ada yang mengatakan Partai Demokrat itu sebenarnya on the way out. Exit (dari dunia politik),” kata Salim saat diwawancarai jurnalis senior Karni Ilyas di channel YouTube Karni Ilyas Club pada 11 Maret 2021.


Salim juga tidak menampik kemungkinan SBY kembali ke jurus playing victim semasa menjabat Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan.


Saat itu, mendiang Ketua MPR Indonesia Taufik Kiemas menyebut SBY sebagai seorang anak kecil. Dari situ, ia kerap mengatakan kepada publik bahwa dirinya pernah diperlakukan tidak adil selama berada di kabinet Megawati.


“Sehingga, orang mengatakan SBY atau pengikutnya ketika itu menyebut Pak SBY itu mendramatisir tingkah laku politik Taufik Kiemas untuk popularitas beliau. Sekarang, muncul lagi tuduhan itu sekarang,” kata Salim.


Kini, menurut Salim, tudingan yang muncul adalah putra tertuanya dizalimi oleh Moeldoko, yang sebenarnya adalah orang dekat Presiden Joko Widodo "Jokowi". 


"Kata dizalimi itu kembali dipakai oleh Pak SBY," kata pengamat militer itu.


Menanggapi tudingan SBY memainkan gaya lama, playing victim, Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menilai situasi saat ini tidak dapat dianggap normal. Sebab, menurutnya, banyak hal yang tidak masuk akal namun justru diabaikan oleh rezim yang berkuasa saat ini.


"Apakah sekelompok orang yang tidak berhak, dibolehkan menyelenggarakan kegiatan politik yang diklaim sebagai kongres (luar biasa) yang merupakan forum tertinggi di suatu organisasi?" tanya Herzaky melalui pesan teks, 13 Maret 2021.


"Lalu, mereka menghadirkan individu yang bukan pemilik suara yang sah, dan kemudian bisa memilih yang mereka sebut ketua umum baru yang merupakan orang lingkar dalam Istana, dan mendemisionerkan kepengurusan sebelumnya?" lanjut Herzaky.


Menurutnya, kesewenang-wenangan kekuasaan yang ditunjukkan secara nyata dan brutal telah memperkosa demokrasi, menafikan etika, norma, kepatutan, dan aturan hukum yang berlaku. Jadi, menurutnya, tidak tepat jika Salim Said mengatakan yang terjadi sekarang hanyalah drama politik.


“Kalau lah memang menghamba kepada kekuasaan, setidaknya janganlah kemudian menjadi intelektual tukang stempel maunya pemerintah ataupun pesanan pihak-pihak tertentu,” kata Herzaky.

Situs Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya | MediaTangkas



Penjelasan Playing Victim dalam Politik, Sudah Ada Sejak Dahulu Penjelasan Playing Victim dalam Politik, Sudah Ada Sejak Dahulu Reviewed by jessica widiasri on 12:12 AM Rating: 5

No comments