Kenali Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi

 

Ilustrasi, sumber foto: Istimewa


Pernahkah kamu merasa tidak terhubung dari diri sendiri atau mengira lingkungan tidak nyata, seolah-olah sedang dalam mimpi? Jika kamu memiliki perasaan tersebut, kamu mungkin mengalami gangguan depersonalisasi-derealisasi atau biasa disebut sebagai gangguan depersonalisasi.


Gangguan ini menyebabkan seseorang merasa seperti sedang hidup dalam mimpi. Bagi sebagian orang yang mengalaminya, gangguan ini dapat menimbulkan kecemasan atau kepanikan, sehingga perlu mencari bantuan untuk mengatasinya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang gangguan depersonalisasi, simak ulasannya berikut ini sampai akhir, ya!


1. Merasa seperti dipisahkan dari diri sendiri atau lingkungan


Menurut Healthline, gangguan depersonalisasi membuat penderitanya merasa terpisah dari diri sendiri atau lingkungannya. Ada dua masalah yang sering dialami oleh penderita kondisi ini, yaitu:


  • Depersonalisasi, yaitu keadaan ketika seseorang merasa dirinya tidak nyata

  • Derealisasi, yaitu kondisi ketika seseorang merasa lingkungannya atau orang lain tidak nyata


Gangguan ini mungkin terasa seperti hidup dalam mimpi. Episode depersonalisasi atau derealisasi, bahkan keduanya, yang berlangsung terus menerus dan berulang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.


Seperti yang dijelaskan di situs Mayo Clinic, selama episode ini, orang yang mengalaminya menyadari bahwa kondisinya hanyalah perasaan, bukan kenyataan.


2. Termasuk dalam gangguan disosiatif


Menurut informasi dari American Psychiatric Association, gangguan depersonalisasi-derealisasi merupakan salah satu jenis gangguan disosiatif. Gangguan disosiatif lainnya termasuk gangguan identitas disosiatif dan amnesia disosiatif.


Gangguan disosiatif adalah kondisi mental yang melibatkan masalah dengan ingatan, identitas, emosi, persepsi, perilaku, dan rasa diri. Gejala disosiatif berpotensi mengganggu fungsi mental seseorang.


3. Gejala depersonalisasi dan derealisasi


Gejala pada kelainan ini secara umum dibedakan menjadi dua yaitu gejala depersonalisasi dan gejala derealisasi.


Gejala depersonalisasi meliputi:


  • Merasa terpisah dari pikiran, perasaan, dan seolah-olah berada di luar tubuh sendiri, seolah-olah melayang dan memperhatikan tubuhnya dari atas

  • Merasa seperti robot atau tidak dapat mengontrol ucapan dan gerakan

  • Merasa ukuran tubuh tidak normal

  • Mengalami mati rasa tubuh atau pikiran, seolah-olah panca indra tidak berfungsi

  • Merasa bahwa ingatannya tidak memiliki emosi dan berpikir mungkin itu bukan miliknya


Sedangkan gejala derealisasi antara lain:


  • Kesulitan mengenali lingkungan sekitar, seperti berada dalam mimpi

  • Serasa dipisahkan oleh dinding kaca dari dunia nyata, sehingga hanya bisa melihat tanpa bisa terhubung

  • Lingkungan tampak tidak nyata, buram, datar, terlalu jauh atau dekat, terlalu besar atau kecil

  • Distorsi dalam persepsi waktu, seperti masa lalu terasa sangat baru dan kejadian terkini terasa seperti masa lalu


4. Penyebabnya diperkirakan terkait dengan stres atau trauma


Melansir WebMD, penyebab gangguan depersonalisasi-derealisasi tidak pasti. Namun, faktor biologis, psikologis dan lingkungan mungkin berperan dalam kondisi ini.


Gangguan depersonalisasi-derealisasi seringkali dipicu oleh stres yang intens atau peristiwa traumatis, terutama di usia muda. Misalnya pelecehan, kecelakaan, bencana alam, perang dan tindak kekerasan yang pernah dialami atau disaksikan sendiri.


Menurut laman Healthline, penggunaan obat-obatan tertentu seperti halusinogen, ketamin, salvia, dan ganja juga dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan gangguan depersonalisasi-derealisasi pada beberapa orang.


5. Psikoterapi dilakukan untuk mengobati gangguan depersonalisasi-derealisasi


Episode depersonalisasi atau derealisasi yang berulang bisa jadi menakutkan. Melansir Mayo Clinic, kondisi ini dapat menyebabkan seseorang sulit fokus pada tugas atau mengingat sesuatu, mengganggu aktivitas, menimbulkan masalah dalam hubungan dengan orang lain, kecemasan, depresi, dan perasaan putus asa.


Perawatan utama untuk gangguan depersonalisasi-derealisasi adalah psikoterapi. Namun, terkadang pengobatan juga dibutuhkan.


Psikoterapi


Psikoterapi adalah pengobatan utama. Tujuannya untuk mengontrol gejala, sehingga bisa berkurang atau hilang. Psikoterapi yang dilakukan meliputi terapi perilaku kognitif atau psikodinamik.


Psikoterapi dapat membantu pasien memahami gangguan depersonalisasi-derealisasi, mempelajari strategi coping mechanism untuk menghadapi situasi stres, menangani emosi yang terkait dengan trauma masa lalu dan kondisi mental lainnya, seperti kecemasan atau depresi.


Obat-obatan


Tidak ada obat khusus untuk gangguan depersonalisasi-derealisasi. Obat-obatan dapat digunakan untuk mengatasi depresi atau kecemasan yang sering dikaitkan dengan gangguan ini.


Selain upaya tersebut, diperlukan dukungan dari keluarga dan kerabat dekat dalam perawatan penderita gangguan depersonalisasi-derealisasi. Jika merasakan sesuatu yang aneh atau tidak biasa dengan kondisi mental kalian, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Situs Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya | MediaTangkas



Kenali Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi Kenali Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi Reviewed by jessica widiasri on 1:50 AM Rating: 5

No comments