Penjelasan Ahli soal Vaksin Sinovac vs AstraZeneca
Ilustrasi, sumber foto: PIXABAY/Nataliya Vaitkevich
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan darurat (UEA) untuk vaksin yang dibuat oleh Oxford-AstraZeneca.
Keluarnya izin ini merupakan tanda bahwa vaksin AstraZeneca siap digunakan untuk vaksinasi COVID-19. Sebelumnya, pemerintah telah menggunakan vaksin Sinovac dalam program vaksinasi sejak Januari 2021.
Lalu manakah yang lebih efektif antara vaksin Sinovac dan AstraZeneca?
Setiap vaksin memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing
Ahli epidemiologi dari Griffith University Dicky Budiman mengungkapkan bahwa setiap vaksin memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga tidak bisa dibandingkan. Apalagi vaksin Sinovac dan AstraZeneca memiliki teknologi yang berbeda.
"Kayak apel, jeruk, semangka, sama-sama buah ada kekurangan dan kelebihan sama juga vaksin," ujarnya saat dihubungi, Selasa (9/3/2021).
Vaksinasi bukanlah solusi akhir
Dicky menegaskan, kedua vaksin tersebut sama-sama menguntungkan, terutama di tengah kemunculan strain baru. Setidaknya vaksin dapat mengurangi keparahan bahkan jika strain baru ditemukan.
Meski demikian, Dicky mengingatkan bahwa vaksinasi bukanlah solusi akhir dan jalan pintas untuk mengakhiri pandemi.
“Yang harus diperkuat strategi 3T dan 5M ini yang diperhatikan jika tidak sangat mungkin program vaksinasi akan diiiringi peningkatan kasus infeksi di rawat rumah sakut dan kematian,” ujarnya.
Khasiat vaksin Sinovac dan AstraZeneca
Lalu bagaimana dengan khasiat kedua vaksin tersebut? BPOM menyebutkan, efikasi vaksin COVID-19 yang diproduksi AstraZeneca sebesar 62,1 persen. Jumlah tersebut telah memenuhi syarat efikasi setidaknya 50 persen dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sehingga vaksin dapat diberikan izin penggunaan daurat.
“Efikasi vaksin dengan dua dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar dua bulan menunjukkan efikasi sebesar 62,1 persen,” kata Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito saat konferensi pers virtual, Selasa (9/3/2021).
Sedangkan berdasarkan analisis uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac di Bandung menunjukkan efikasi sebesar 65,3 persen.
Hasil ini jauh dari negara lain yang juga pernah melakukan uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac. Kepala Badan POM, Penny Lukito, mengatakan berdasarkan laporan, efikasi di Turki mencapai 91,25 persen dan Brasil 78 persen.
Situs Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya | MediaTangkas

No comments