Sejarawan Sebut Kerajaan di Jawa Barat Bukan Pajajaran Melainkan Sunda-Galuh

 

Ilustrasi, sumber foto: Wikipedia


Seperti di daerah lain di Jawa, Jawa Barat juga memiliki sejarah kerajaan. Setidaknya ada dua kerajaan besar yang ada setelah zaman Tarumanagara, yaitu Galuh dan Sunda. Dari dua kerajaan inilah akar identitas sejarah dan budaya masyarakat Sunda tertanam.


Dalam sejarahnya, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof.Dr.Nina Herlina Lubis mengatakan bahwa Kerajaan Sunda dan Galuh pernah bersatu dengan nama Kerajaan Sunda, dan pusat kekuasaannya ada di wilayah Galuh


Penyatuan kedua kerajaan tersebut, lanjut Nina, terjadi pada masa Sanjaya, raja Sunda setelah Maharaja Trarusbawa.


“Dalam sumber primer Prasasti Canggal disebutkan, Sanjaya merebut tahta kerajaan Galuh dari Rahyang Purbasora sekitar sebelum tahun 732 Masehi,” kata Nina dalam diskusi virtual “Satu Jam Berbincang Ilmu: Kerajaan Sunda dalam Konstelasi Politik, Dulu dan Kini", Senin (15/3/2021).


Ibu kota atau pusat kerajaan Galuh sering berpindah-pindah


Berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sejarawan Unpad ini menjelaskan, berdasarkan peninggalan sejarah, ibu kota atau pusat kekuasaan Kerajaan Galuh berpindah-pindah. Dimulai di daerah dekat Banjar saat ini, kemudian pindah ke daerah yang sekarang menjadi perbatasan Ciamis-Banjar, dan kembali lagi ke daerah Kawali.


“Di Kawali itulah kita menemukan sumber yang bisa dipercaya tentang Galuh, yaitu  6 prasasti yang menyebutkan berbagai peristiwa tentang Kerajaan Galuh,” kata Nina.


Karena ibu kota kerajaan sering berpindah-pindah, akibatnya terdapat perbedaan karakteristik Kerajaan Sunda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Peninggalan Kerajaan Sunda berupa candi-candi yang jumlahnya lebih sedikit


Peninggalan sejarah Kerajaan Sunda berupa bangunan candi relatif sedikit dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pasalnya, masyarakat Sunda saat ini bukanlah masyarakat yang menetap. Inilah alasan mengapa ibu kota Kerajaan Galuh dan Sunda sering berpindah-pindah.


“Karena berpindah-pindah jadi tidak punya waktu membangun candi besar. Di Jateng dan Jatim masyarakatnya petani sawah, sehingga cukup punya waktu membangun bangunan monumental,” kata Nina.


Pajajaran bukanlah nama sebuah kerajaan


Selama ini orang mengenal Pajajaran sebagai Kerajaan Sunda. Padahal, Pajajaran bukanlah nama sebuah kerajaan. Ini karena nama asli kerajaan tersebut adalah Kerajaan Sunda.


Nina menjelaskan, Pajajaran adalah nama ibu kota atau pusat kekuasaan Kerajaan Sunda pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yaitu Pakwan Pajajaran yang terletak di kota Bogor saat ini.


“Ada teori yang dikemukakan Robert von Heine-Geldern, kerajaan di Asia Tenggara umumnya disebut dengan nama ibu kotanya,” kata Nina.


Dalam kepercayaan masyarakat Sunda saat itu, ibu kota kerajaan dipercaya sebagai pusat mikrokosmos. Cukup menyebutkan nama mikrokosmos, yang berarti telah menyebutkan seluruh wilayah kerajaan.


“Itu sebabnya yang beken sekarang itu Pajajaran, padahal yang betul Kerajaan Sunda. Itulah kita harus berpegang pada sumber primer,” kata Nina.


Kerajaan Sunda sangat toleran


Sumber primer diyakini para ahli sebagai bukti otentik yang dapat dijadikan rujukan sejarah. Hal ini juga dapat menjadi acuan berbagai perdebatan yang muncul dari proses penafsiran sejarah.


Kerajaan Sunda sendiri tidak lepas dari perdebatan. Salah satunya adalah tentang kepercayaan Prabu Siliwangi.


Menurut Nina, kepercayaan Sri Baduga Maharaja tertuang dalam Prasasti Batu Tulis yang didirikan oleh Prabu Surawisesa, 12 tahun setelah wafatnya Sri Baduga Maharaja. Dalam prasasti tersebut jelas disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja, ayah dari Prabu Surawisesa, wafat pada tahun 1521. Jenazahnya kemudian diperabukan.


“Kenapa diperabukan? Karena dia beragama Hindu,” kata Nina.


Berbekal informasi dari sumber primer, jelas Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi wafat saat beragama Hindu. Padahal ada bukti sekunder yang menjelaskan bahwa Prabu Siliwangi beragama Islam.


Menjelang akhir usianya, banyak pendatang baru mulai menetap di Tanah Sunda. Para pendatang tidak hanya beragama Hindu, tetapi ada pula yang beragama Budha dan Muslim.


Nina menjelaskan, keberagaman budaya dan agama yang berlatar belakang Sunda membuktikan bahwa kerajaan Sunda memiliki toleransi yang tinggi. Padahal, penyebaran agama Islam di Sunda sudah berlangsung sejak abad ke-14.

Situs Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya | MediaTangkas

Sejarawan Sebut Kerajaan di Jawa Barat Bukan Pajajaran Melainkan Sunda-Galuh Sejarawan Sebut Kerajaan di Jawa Barat Bukan Pajajaran Melainkan Sunda-Galuh Reviewed by jessica widiasri on 1:39 AM Rating: 5

No comments